28 Mei 2015

Sejarah Ejaan Van Ophuijsen



Sumpah Pemuda sebagai Cikal Bakal Bahasa Indonesia
Seperti yang kita ketahui bahwa cikal bakal bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu, sebuah bahasa yang pada mulanya digunakan oleh para penduduk di wilayah Sumatera Timur, Semenanjung Malaya, serta Pantai Barat dan Utara Pulau Kalimantan. Selain menjadi cikal bakal bahasa Indonesia, bahasa Melayu juga menjadi cikal bakal bahasa Malaysia, bahasa nasional dan bahasa resmi di Kerajaan Malaysia.
Bukti tertulis bahwa asal mula bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yaitu sebuah prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Palembang yaitu
Prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo, di Jambi yaitu Prasasti Karang Berahi, dan di Pulau Bangka yaitu Prasasti Kota Kapur. Prasasti-prasasti itu ditulis dalam bahasa Melayu kuno dan menggunakan huruf palawa.
Kemudian karena cikal bakal bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu, maka yang menjadi sumber pertama kosakata bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu. Kosakata yang terdapat dalam buku sejarah melayu, Hikayat Si Miskin, Hikayat Pandawa Lima, dan Hikayat Abdullah bin Abdul Khadir Munsyi dapat kita klaim sebagai kosakata bahasa Indonesia. Kosakata bahasa Malaysia pun awalnya mempunyai sumber yang sama dengan bahasa Indonesia, namun dalam perkembangan selanjutnya, karena adanya perbedaan sejarah kekuasaan di wilayah yang kemudian menjadi Negara Republik Indonesia dengan di wilayah Kerajaan Malaysia, maka bahasa Indonesia banya mendapatkan sumbangan kosakata dari bahasa-bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Malaysia banyak mendapat sumbangan dari dalek-dialek Melayu yang ada di wilayah Malaysia. Di samping itu, kedua bahasa ini pun banyak menyerap kosakata asing yang berbeda; bahasa Indonesia menyerap kosakata Belanda, dan bahasa Malaysia banyak menyerap kosakata Inggris.
Sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia mengalami tahap-tahap yang sangat penting dalam sejarah perkembangannya. Dimulai dari 1901, disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. Van Ophuysen dalam Kitab Logat Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia. Pada 1928 Bahasa Indonesia diikrarkan dalam Sumpah Pemuda sebagai bahasa persatuan. Kemudian tahun 1942 kedudukan bahasa Indonesia semakin kokoh akibat kekalahan Belanda terhadap Jepang, yang secara otomatis bahasa Belanda tidak boleh dipergunakan lagi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam situasi resmi. Tahun 1945 Bahasa Indonesia memperoleh kedudukannya yang lebih pasti sebagai bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa kesatuan dan bahasa negara. Kemudian, dengan penetapan pemakaian ejaan baru oleh Presiden RI tanggal 16 Agustus tahun 1972, selangkah bahasa Indonesia maju menuju kesempurnaannya.
Pada saat Sumpah Pemuda berkumpul para tokoh pemuda dari berbagai daerah dan kalangan hadir. Para pemuda mengeluarkan ikrar bersama yang menyangkut pengakuan berbangsa satu, bangsa Indonesia. Bertanah air satu, tanah air Indonesia. Menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu, bahasa Indonesia. Ragam bahasa Melayu dijunjung tinggi sebagai bahasa Indonesia ini adalah ragam bahasa Melayu tinggi yang telah terkodifikasi, mempunyai tradisi sastra, serta telah digunakan dan diajarkan dalam pendidikan formal.

Sejarah Ejaan Van Ophuijsen

        Ejaan van Ophuijsen ini turut mempengaruhi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Sebelum ada ejaan van Ophuijsen, tata bahasa Indonesia masih berupa ejaan bahasa Melayu dengan huruf latin. Rancangan ejaan baru disusunnya bersama Engku Nawawi Gelar Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib Sutan Ibrahim, pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang dikenal dengan nama Ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 190I. Ketika pada rahun 1947 pemerintah RI menggunakan secara resmi Ejaan Suwandi, ejaan yang baru itu sebagian besar tetap berlandaskan pada aturan-aturan menurut Ejaan van Ophuijssen.    Penulisan Ejaan yang Disempurnakan pada masa-kemasa mengalami perubahan yang dimulai dari ejaan Van Ophuijsen yang  terdengar dalam Kongres Bahasa Indonesia I, 1983, di Solo. Ejaan van Ophuijsen ini merupakan ejaan yang pertama kali berlakudalam bahasa Indonesia yang ketika itu masih bernama bahasa Melayu.
Pada awal abad 20, bahasa melayu terpecah menjadi dua. Indonesia dibawah Belanda mengadopsi ejaan Van Ophuijsen pada tahun 1901, sedangkan Malaysia dibawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson pada tahun 1904. Ejaan Van Ophuijsen disusun oleh Charles Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim pada 1896 dan resmi diakui pada tahun 1901. Ejaan tersebut memiliki ciri-ciri penggunaan “oe” seperti dalam “boekoe”, “j” seperti dalam “rakjat”, “dj” seperti dalam “djakarta”,  “tj” seperti dalam “tjara”, dan lainnya.
Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Charles Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim menyusun ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama ejaan Van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:
Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.
Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.
Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.
Tanda diakritik, seperti koma ain  untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dsb.
Ejaan Van Ophuijssen atau yang juga dikenal dengan ejaan Balai Pustaka dipergunakan sejak tahun 1901 hingga bulan Maret 1947. Disebut Ejaan Van Ophuijssen karena ejaan itu merupakan hasil karya dari Ch.  Van Ophuijsen yang dibantu oleh Engku Nawawi. Ejaan ini dimuat dalam Kitab Logat Melayu. Disebut dengan Ejaan Balai Pustaka karena pada waktu itu Balai Pustaka merupakan suatu lembaga yang terkait dan berperan aktif serta cukup berjasa dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia.
Beberapa hal yang cukup menonjol dalam ejaan van Ophuijsen antara lain :

a.       Huruf y ditulis dengan j.
Misalnya:
EYD
Ejaan van Ophuijsen
Sayang
Yakin
Saya
Sajang
Jakin
Saja


b.      Huruf u ditlus dengan oe
Misalnya:
EYD
Ejaan van Ophuijsen
Umum
Sempurna
Surat
Oemoem
Sempoerna
soerat

c.       Huruf k pada akhir kata atau suku kata ditulis dengan tanda koma di atas.
Misalnya:
EYD
Ejaan van Ophuijsen
Rakyat
Bapak
Makmur
Ra’yat
Bapa’
Ma’moer
1.       
d.      Huruf j di tulis dengan dj.
Misalnya:
EYD
Ejaan van Ophuijsen
Jakarta
Raja
Jangan
Djakarta
Radja
Djangan

e.       Huruf c ditulis dengan tj.
Misalnya:
EYD
Ejaan van Ophuijsen
Pacar
Cara
Curang
Patjar
Tjara
Tjurang


f.       Gabungan konsonan kh ditulis dengan ch.
Misalnya:
EYD
Ejaan van Ophuijsen
Khawatir
Akhir
Khazanah
Chawatir
Achir
Chazanah



Daftar Pustaka






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contoh Laporan Observasi Toko

LAPORAN OBSERVASI TOKO ALFAMART PETALING JAYA, SUNGAI GELAM, MUARO JAMBI ...